Pusat Informasi Kegiatan Probinmaba

Selayang Pandang

Arsitek Peradaban

“merancang Masa Depan, menuju Generasi Cemerlang”

Ketika seorang pelukis peradaban dihadapkan pada kenyataan,

tangan-tangan mereka segera meraih kuas kecil seolah tak henti bertanya tentang sebuah jawaban

Ia datang dengan langkah tersipu, meneriakkan semangat untuk menjadi seorang

Arsitek Peradaban

Mereka tidaklah hanya memenuhi jiwanya dengan hasrat, tetapi ketahuilah bahwa sesungguhnya ia sudah melakukan langkah awal untuk mewujudkan sebuah maha karya

Mereka telah tiba di puncak, namun  sejuta hasrat menyadarkan ia untuk terus ke angkasa

 

PROBINMABA 2011

 

Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah dibelakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) nya. oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara denagn tutur kata yang benar( An-Nisa:9)

Fritjof  Capra menyatakan, “Pada awal dua dasawarsa terakhir abad keduapuluh, kita menemukan diri kita berada dalam suatu krisis global yang serius, yaitu suatu krisis kompleks multidimensional yang segi-seginya menyentuh setiap aspek kehidupan, kesehatan dan mata pencaharian, kualitas lingkungan dan hubungan sosial, ekonomi, teknologi dan politik. Krisis ini terjadi dalam dimensi intelektual, moral dan spiritual; suatu krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam catatan sejarah umat manusia” (Lihat : Fritjof Capra, The Turning Point: Titik Balik Peradaban, Jejak, Yogyakarta, 2007).

Untuk menghadapi krisis global yang serius tersebut dibutuhkan seorang tangguh untuk memulai sebuah perubahan agar tercapai keseimbagan dalam segala sector kehidupan. Ironisnya semakin tingginya harapan perubahan tersebut, sifat generasi muda sering berada dalam kehampaan dan ketidaksiapan. Sibuk dengan kerja,  sibuk dengan politik, sibuk dengan bisnis, sibuk dengan mengejar target pekerjaan, sibuk berkarier, sibuk memikirkan kenaikan pangkat, sibuk mengusahakan kebaikan posisi dan gaji.

Penyimpangan moral yang terjadi di kalangan generasi muda pun tidak dapat diremehkan. Tawuran pelajar, perkelahian antar genk, perilaku seks bebas, gaya hidup tidak beraturan menjadi beberapa contoh kelunturan moral di kalangan generasi muda. Di kalangan pejabat, praktek korupsi masih merupakan persoalan yang sangat mengerikan di Indonesia. Masyarakat secara umum pada akhirnya kehilangan rujukan keteladanan, sehingga krisis moral semakin meluas.

Oleh karena itu, diperlukan sosok tenaga kesehatan yang bisa menjadi arsitek peradaban yang dapat mensinergikan kekuatan intelektual dengan kebersihan hati dan jiwa sehingga akan terbentuk calon tenaga kesehatan yang tanggap dalam permasalahan, optimal dalam pengabdian, kokoh dalam idealisme, serta peduli dan siap terjun ke dalam realita kehidupan tenaga kesehatan yang sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya.

Setiap manusia merupakan arsitek  peradaban, pemimpin (minimal bagi diri sendiri) untuk menciptakan sebuah perubahan yang dapat mensinergiskan nilai-nilai (nilai PK2 yang diusung) agar terbentuk suatu kejayaan masa yang diidamkan oleh setiap insan. Kesinergisan nilai-nilai yang diusung  harus dimulai sejak dini sebagai sebuah pondasi dalam membentuk suatu peradaban. Oleh sebab itu setiap calon tenaga kesehatan yang tergabung dalam kolegium Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya akan di cetak sebagai arsitek peradaban yang akan membentuk sebuah peradaban yang berguna bagi bangsa dan negara Indonesia. Proses pembentukan arsitek peradaban dimulai dari skala kecil tingkat kelompok-kelompok kecil yang dibentuk sejak mahasiswa baru untuk selanjutnya bisa berkembang terus hingga tingkat selanjutnya.

Output yang diharapkan adalah tercetaknya mahasiswa kesahatan yang T.O.P

(T)anggap dalam Permasalahan

Permasalahan di dunia kesehatan kian lama semakin kompleks. Merujuk pada banyak referensi tentang fakta-fakta lapangan yang terjadi, negara ini haus akan pribadi-pribadi yang tanggap dan peka dalam merespon setiap masalah yang ada.

Membersihkan yang kotor, mengeringkan yang basah, meluruskan yang bengkok, menegakkan yang jatuh, ialah salah sekian dari contoh nyata sebuah tanggap permasalahan yang tertuang dalam simbol cekatan.

(O)ptimal dalam Pengabdian

Pengabdian ialah misi diciptakannya manusia sesuai kehendak Tuhan, yakni bagaimana mengamalkan sesuatu yang dimiliki untuk diterima orang lain sehinggaorang lain itu pun tergerak untuk menyalurkan kebaikan itu, mengamalkannya bagi dirinya maupun orang lain.

Medan pengabdian tidak terbatas, yang membatasinya ialah kemampuan setiap orang untuk menyelami medan tersebut. Kerahkanlah usaha maksimal untuk memilih medan pengabdian yang benar-benar diyakini dapat membuahkan hasil dan manfaat yang lebih baik untk orang-orang di sekitar.

Jadilah seorang pengemban sebuah abdi dengan memiliki ilmu dan keterampilan yang baik, pengetahuan akan kondisi tempat dan masyarakat dimana tempat mengemban pengabdian, dan milikilah sifat-sifat seorang pengabdi seperti, ikhlas, amanah, pekerja keras, konsisten, peduli dengan lingkungan, mampu bekerja sama, serta bertwakal kepada Tuhan.

Mengabdilah secara optimal dimana bisa menjadikan daya pikir dan kreatifitas lebih berkembang, memotivasi untuk melakukan perubahan positif dan beramal bagi masyrakat luas, serta tidak memberi peluang bertabrakannya antara kepentingan manusia dan kepentingan Tuhan. Memiliki keterbukaan bagi pengembangan inovasi baru yang telah atau pun akan dipersiapkan.

Perbekalan pemahaman tersebut akan dicapai hasil dan target pengabdian yang lebih terarah, seperti mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, lebih mementingkan substansi daripada formalisasi, lebih mementingkan metode daripada sekedar materi, lebih memilih persatuan daripada perbedaan.

(P)erkokoh Nilai Kolegium dan Pilar Pembinaan

Menjadi seorang tenaga kesehatan yang berjiwa altruistik merupakan idaman tiap insan di negara ini. Masalahnya ialah terkadang tiap individu tak tahu bagaimana mengatur semua komponen hati agar semakin peka dengan kenyataan yang terjadi dewasa ini. Berpegang pada nilai-nilai kolegium serta pilar-pilar pembinaan merupakan hal yang tepat dijadikan sebagai prinsip yang sesuai dengan pancasila sebagai dasar negara, yaitu Religius, Moralis, Intelek, Profesional, Kolegalitas, serta Kepemimpinan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: